JAKARTA – Rony Parulian resmi merilis album kedua bertajuk Dunia dan Seisinya hari ini, Jumat (4/9), di bawah naungan Universal Music Indonesia. Berisi 10 lagu, album ini tersedia serentak di seluruh platform streaming musik.
Di balik peluncurannya, ada cerita tentang bagaimana Rony berubah selama proses penggarapan. Rendy Pandugo, salah satu musisi yang terlibat, melihat langsung pergeseran itu ketika mereka bekerja bersama di Bali. “Dulu Rony ini emang pemalu dan cenderung pasif. Tapi waktu bikin album ini di Bali sama Petra, suasananya udah lebih enak, jadi lebih santai,” kata Rendy saat konferensi pers di Krapela, Jakarta Selatan, Rabu (2/9) lalu.
Dunia dan Seisinya adalah karya kedua Rony setelah debutnya lewat Rahasia Pertama pada 2025. Bedanya, kali ini Rony tidak lagi sekadar tampil di depan lagu yang sudah selesai ditulis orang lain. Ia terlibat penuh dalam penulisan setiap lagu, berbagi proses kreatif dengan Lafa Pratomo, Petra Sihombing, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias.
Krisna Trias, yang sebelumnya juga menggarap album pertama Rony, menyebut perbedaan itu terasa jelas. “Album yang sekarang ini lebih merdeka dalam kreativitas. Lagu-lagunya menurutku cukup multi-genre, jadi lumayan eksplor,” ujar Krisna.
Kemerdekaan kreatif itu paling terasa lewat ‘Dunia Imajiner’, lagu yang ditulis Rony bersama Lafa Pratomo. Alih-alih membawakan cerita yang sudah jadi, Rony ikut membangun dunia tempat cerita itu tumbuh. “Buat aku, ‘Dunia Imajiner’ itu seperti ruang untuk membayangkan sesuatu yang mungkin belum kita temukan di kehidupan nyata. Kadang kita memang punya dunia sendiri di kepala kita. Bisa jadi tempat untuk melarikan diri, bisa juga tempat untuk membayangkan sesuatu yang lebih baik. Aku rasa semua orang punya ruang seperti itu,” ujar Rony.
Lafa kemudian menerjemahkan gagasan itu ke dalam produksi yang memberi ruang bagi vokal Rony untuk bernapas, dengan Refo Alpha Ramadhan sebagai co-producer dan Kamga sebagai vocal director. Lagu lain yang paling menguras emosi Rony adalah ‘Jarak dan Rindu’. Lagu itu lahir dari sesi percakapan panjang bersama Rendy Pandugo sebelum ditulis bersama di Jakarta, dengan proses pembuatan yang membuatnya begitu personal dibanding lagu lain di album ini.

Sepuluh lagu dalam album ini sengaja tidak disusun sebagai kisah yang berjalan lurus. Setiap lagu berangkat dari momen dan perasaan yang berbeda-beda, mulai dari jatuh cinta, kecemburuan, kompromi, kerinduan, hingga proses belajar untuk terus percaya pada diri sendiri. Sebagian judul dipilih Rony karena terasa dekat dengan percakapan sehari-hari, seperti ‘Aku Cemburu’, ‘Kau Akan Sampai’, dan ‘Kencan Pertama’. Sebagian lain, seperti ‘Dunia Imajiner’ dan ‘Selamanya, Kini & Nanti’, sengaja dibuka lebih lebar untuk ditafsirkan.
Menurut Rony, gagasan besar di balik album ini bermula dari dua sisi kehidupan yang dijalani setiap orang: dunia nyata dengan rutinitas dan perpisahan yang kadang di luar kendali, serta dunia lain yang hanya dikenal diri sendiri, tempat ingatan, harapan, dan imajinasi bercampur menjadi sesuatu yang personal.
“Kalau didengarkan satu per satu, mungkin setiap lagu punya dunia sendiri. Tapi ketika semuanya dikumpulkan menjadi satu album, aku merasa ada benang merah yang menghubungkan semuanya. Ada cerita tentang cinta, ada tentang imajinasi, ada tentang bagaimana kita menghadapi hidup dan bagaimana kita memilih untuk terus berjalan. Buat aku, itulah Dunia dan Seisinya,” kata Rony.
Ia berharap album ini menjadi lebih dari sekadar kumpulan lagu. “Aku ingin album ini terasa seperti perjalanan. Bukan cuma perjalanan musik, tapi juga perjalanan aku sebagai manusia dan sebagai musisi. Ada hal yang sebelumnya belum pernah aku coba, ada cerita yang sebelumnya belum pernah aku berani ceritakan. Jadi ketika orang mendengarkan album ini, aku berharap mereka bukan cuma mendengar lagu Rony Parulian, tapi juga bisa menemukan bagian dari dunia mereka sendiri di dalamnya,” tutup Rony./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa

















