JAKARTA – Ada kekhawatiran yang selalu muncul saat kecerdasan buatan disandingkan dengan sejarah: siapa yang menjamin fakta tidak tergerus demi tampilan yang memukau? Pertanyaan itu yang coba dijawab Galeri Indonesia Kaya lewat pameran imersif Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, yang dibuka gratis untuk umum di Jakarta mulai 1 September 2026.
Alih-alih sekadar memvisualkan ulang relief Candi Borobudur, pameran ini dibangun di atas kerangka kerja Ethical AI, pendekatan yang menempatkan riset dan validasi akademik sebagai syarat sebelum satu adegan pun ditayangkan. Delapan pengalaman interaktif disusun dari sumber tervalidasi, termasuk Prasasti Karangtengah tahun 824 Masehi dan Prasasti Tri Tepusan tahun 842 Masehi.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menjelaskan alasan di balik pemilihan medium ini. “Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan dan kekinian.
Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis Ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin. Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini,” ujar Renitasari.

Proses kurasi itulah yang membedakan Purwacarita Borobudur dari instalasi digital pada umumnya. Setiap naskah dialog, kostum, dan detail arsitektur di layar melewati pemeriksaan Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, serta validasi profesional dari Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif bahkan turun langsung ke Borobudur untuk memastikan rujukan visualnya akurat.
Kurator sejarah UGM, Dr. Sri Margana, M.Phil., menegaskan kecepatan teknologi tidak boleh mengorbankan ketelitian. “Sebagai kurator sejarah, tantangan terbesar bukan sekadar membuat sejarah terlihat menarik secara digital, tetapi menerjemahkan kompleksitas sejarah Borobudur ke dalam medium baru tanpa kehilangan konteks dan nuansanya. Karena itu, setiap narasi, karakter, busana, artefak, dan elemen visual yang ditampilkan perlu ditelusuri dan divalidasi berdasarkan sumber sejarah yang relevan. Bagi kami, teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah kepada publik, selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi,” ujarnya
Secara teknis, kedelapan fitur menyusun perjalanan yang runut. Sapa Borobudur membuka kisah dengan lanskap zaman berdirinya candi, sebelum relief Karmawibhangga dan Avadana dihidupkan lewat teater imersif tentang hukum sebab-akibat serta kisah cinta Pangeran Sudhana dan Putri Manohara.
Pengunjung lalu berinteraksi dengan empat tokoh yakni Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara, di segmen Batu Carita, menapaki rute peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon lewat gawai pribadi di segmen Mandala, hingga memicu respons burung merak, rusa Jawa, dan gajah lewat sensor gerak di segmen Harmoni Borobudur. Rangkaian ditutup oleh Asal Mula Borobudur The Movie di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

Bagi Curaweda, pengembang kreatif pameran ini, AI diposisikan sebagai alat, bukan tujuan. Founder sekaligus CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, menegaskan hal itu. “Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli. Melalui Purwacarita Borobudur, kami ingin menunjukkan bahwa AI dapat digunakan secara etis untuk memperkuat riset sekaligus menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dalam cara yang lebih dekat dengan generasi muda,” ujarnya.
Peran menyatukan kurator, pengembang teknologi, dan konsultan bisnis dipegang Bening Digital Indonesia. President Director-nya, Lia Marliana, menyebut kolaborasi ini bukti bahwa teknologi dan fakta sejarah tidak harus berseberangan, sekaligus berharap proyek ini menjadi awal bagi lebih banyak kisah budaya Indonesia yang dituturkan lewat pengalaman imersif berbasis AI.
Purwacarita Borobudur dapat dikunjungi gratis di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, lewat bekal yang pas sebelum berkunjung langsung ke Candi Borobudur, sekaligus ruang untuk memaknai ulang relief yang mungkin pernah dilihat namun belum sepenuhnya dipahami./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















