JAKARTA – Ratusan calon mahasiswa baru bakal memadati BSD City hari ini. Monash University, Indonesia menggelar Undergraduate Open Day pada Sabtu (23/8), tepat ketika kampus asing pertama di Indonesia itu baru saja melepas angkatan sarjana perdananya mengikuti masa orientasi.
Setelah lima tahun hanya membuka jenjang magister dan doktoral, kampus yang berlokasi di Green Office Park, BSD City itu kini resmi menerima lulusan SMA lewat tiga program studi, yakni Bachelor of Digital Business, Bachelor of Information Technology, dan Bachelor of Design.
Bagi Gwen Fandy, mahasiswa Digital Business angkatan pertama, kesempatan kuliah S1 di Monash Indonesia menjadi jembatan sebelum benar-benar merantau ke Australia. Ia mengaku proses adaptasi menjadi lebih ringan karena berlangsung bertahap. “Program sarjana ini membantu saya mengembangkan keterampilan belajar mandiri, riset, berpikir kritis, serta berdiskusi secara aktif sebelum beradaptasi dengan kehidupan di negara baru,” kata Gwen. “Di saat yang sama, saya menjadi bagian dari komunitas kampus yang sesungguhnya, yang membekali saya dengan kepercayaan diri dan pengalaman untuk menjalani transisi ke Australia dengan lancar.”
Ketiga program studi itu tidak dipilih sembarangan. Digital Business, Information Technology, dan Design disebut selaras dengan kebutuhan tenaga kerja masa depan sekaligus mendukung agenda besar Indonesia Emas 2045, yang menuntut lahirnya sumber daya manusia terampil dan berdaya saing di panggung global.
Pro Vice-Chancellor sekaligus President Monash University, Indonesia, Profesor Matthew Nicholson, menyebut kedekatan mahasiswa dengan periset kelas dunia menjadi pembeda utama pengalaman belajar di kampus ini. Menurutnya, mahasiswa tidak sekadar mempelajari teori, tetapi juga menyaksikan langsung proses lahirnya sebuah temuan.

“Di Monash, pendidikan dan pengembangan pengetahuan berjalan beriringan serta saling menguatkan secara langsung,” ujar Profesor Matthew. “Mahasiswa program sarjana angkatan ini berkesempatan belajar langsung dari para akademisi terkemuka, tidak hanya mengenai apa yang telah mereka temukan, tetapi juga bagaimana proses di balik penemuan tersebut,” sebutnya.
Ia menambahkan, bekal itu diharapkan membuat lulusan mampu berpikir kritis, berinovasi, dan terjun langsung dalam pembangunan sosial, teknologi, serta ekonomi Indonesia begitu mereka lulus.
Klaim itu tidak berdiri sendiri. Dalam QS World University Rankings 2027, Monash University tercatat naik ke peringkat 31 dunia, posisi tertinggi sepanjang sejarah kampus tersebut sekaligus lompatan 29 peringkat dalam satu dekade terakhir. Capaian ini membuat Monash masuk jajaran universitas dengan kenaikan peringkat tercepat di 50 besar dunia.
Dari sisi format, program sarjana di Monash Indonesia mengikuti pola gelar tiga tahun khas Australia, satu tahun lebih singkat dibanding rata-rata program S1 di Indonesia tanpa memangkas kedalaman materi. Mahasiswa Digital Business dan Information Technology bisa menuntaskan studi penuh di Indonesia atau mengambil jalur hybrid, satu setengah tahun di BSD dan sisanya di kampus Australia. Sementara mahasiswa Design memiliki jalur transfer terstruktur dengan komposisi waktu serupa untuk mengakses studio di kampus asal.
Seluruh mata kuliah diajarkan penuh dalam bahasa Inggris oleh pengajar internasional, mengikuti kurikulum yang identik dengan Monash di Australia. Status sebagai universitas asing pertama di Indonesia juga membuat kampus ini memiliki jaringan lebih dari 10 ribu alumni lokal serta relasi erat dengan pemerintah dan industri, modal yang selama ini menopang program pascasarjana dan executive education Monash sebelum merambah jenjang sarjana.
Bagi lulusan SMA yang masih menimbang pilihan kampus, Undergraduate Open Day hari ini bisa menjadi titik awal mencari informasi jalur masuk, biaya, hingga skema pertukaran ke Australia secara langsung, sebelum periode pendaftaran berikutnya dibuka./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo


















