JAKARTA – Malam di studio SCTV seketika berubah magis saat sosok remaja dengan karakter vokal yang dalam dan penuh jiwa melangkah ke atas panggung. Sienna Spiro, penyanyi muda asal Inggris yang namanya tengah meroket secara global, hadir memberikan warna baru dalam babak “The Duel Top 16” ajang pencarian bakat The Icon Indonesia pada Selasa, 28 April 2026.
Tak hanya sekadar tampil sebagai bintang tamu, kehadirannya membawa pesan penting tentang bagaimana sebuah identitas vokal mampu melintasi batas negara.
Sudah cukup diketahui jika Sienna membawa aura musik Soul dan Jazz yang kental di tengah kompetisi yang ketat. Kehadirannya seolah menjawab kerinduan penggemar di tanah air yang telah membuat lagu hitnya ‘Die On This Hill’, merajai tangga lagu internasional di Indonesia selama tujuh minggu berturut-turut.
Bagi Sienna, pencapaian ini terasa seperti mimpi yang tidak pernah ia duga sebelumnya. “Jujur, saya tidak pernah berekspektasi apa pun pada musik saya. Saat itu terjadi, saya kaget. Saya tidak percaya bisa jadi nomor 1 di sini. Ini pertama kalinya saya di sini dan saya sangat bersyukur,” ungkapnya dengan nada rendah hati di sela persiapannya sebelum naik panggung.
Tampil di panggung talent search seperti The Icon Indonesia memberikan dejavu tersendiri bagi Sienna. Ia bercerita bahwa tumbuh besar di Inggris membuatnya sangat akrab dengan tayangan seperti The Voice UK, Britain’s Got Talent, hingga X Factor. Menjadi bagian dari acara serupa di belahan dunia lain, baginya, adalah sebuah pencapaian personal yang emosional.

Untuk penampilan malam ini, ia memilih pendekatan yang intim, lewat suguhan akustik yang minimalis namun bertenaga. Pilihan ini sejalan dengan prinsip bermusiknya yang percaya bahwa kesederhanaan seringkali lebih kuat daripada teknik yang berlebihan. “Saya belajar bahwa terkadang kesederhanaan itu lebih baik (less is more),” tuturnya saat memberikan tips bagi para kontestan.
Sienna juga mencermati fenomena media sosial saat ini, di mana penyanyi muda sering terjebak melakukan teknik vokal atau run yang rumit hanya untuk audisi 15 detik. Baginya, esensi bernyanyi adalah tentang karakter dan cara bercerita, sebuah pelajaran yang ia petik dari legenda seperti Frank Sinatra, Whitney Houston, hingga Etta James.
Karier Sienna Spiro memang sedang berada di jalur cepat. Salah satu momen yang ia sebut mengubah hidupnya adalah saat berkesempatan bernyanyi bersama Sam Smith pada Oktober lalu. Pengalaman itu membentuk perspektif baru dalam cara ia memandang industri musik dan performa panggung.
Kini, ia juga merambah dunia sinema lewat lagu ‘Material Lover’ yang ditulis khusus untuk film The Devil Wears Prada 2. Lagu ini bukan sekadar pelengkap latar, melainkan sebuah kritik sosial yang ia tulis setelah terinspirasi oleh pergeseran dunia cetak ke era digital dan kecerdasan buatan (AI). Sienna ingin menekankan pentingnya menjadi sosok yang “nyata” di tengah dunia yang semakin artifisial.
Kehadiran Sienna di babak Top 16 juga memberikan suntikan semangat bagi para peserta, terutama Felicia asal Tangerang. Sebelumnya, Felicia sempat mencuri perhatian juri saat membawakan ‘Die On This Hill’ dengan interpretasi yang sangat emosional di babak sebelumnya. Pertemuan ini menjadi bukti bagaimana musik mampu menyatukan bakat lokal dengan standar global.
Malam itu, persaingan di Grup B yang terdiri dari Aisyah, Atvian, Felirenza, Glenn, Gueen, Radit, Sheera, dan Sulthan berlangsung sengit di bawah pengawasan ketat dewan juri mulai dari Ahmad Dhani hingga Isyana Sarasvati. Namun, pesan Sienna tetap menggema: “Semoga beruntung! Saya belum pernah ikut kompetisi seperti ini, jadi ya, semangat!”
Sebelum menutup obrolan, Sienna menitipkan pesan hangat untuk para pendengarnya di Indonesia. “Saya hanya ingin bilang saya sangat mencintai kalian, terima kasih untuk segalanya, dan saya harap bisa kembali lagi untuk konser yang lebih besar,” ucapnya menutup percakapan dengan senyum lebar./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















