JAKARTA — Ruang ruji panti jompo kerap kali menjadi titik nadir bagi sebuah hubungan darah antara anak dan orangtua. Di balik dinding-dinding sunyinya, tersimpan lapisan cerita tentang dilema, keterbatasan ekonomi, hingga pengikisan empati.
Potret sosial yang jamak ditemui dalam realitas urban inilah yang mendasari lahirnya karya terbaru dari rumah produksi Leo Pictures, sebuah film drama keluarga bertajuk “Jangan Buang Ibu“. Dijadwalkan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai 25 Juni 2026, sinema ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebuah refleksi sekaligus tamparan keras bagi generasi muda dalam memandang arti berbakti.
Geliat antisipasi sebetulnya sudah terasa sejak akhir Mei lalu. Melalui rangkaian Gala Premiere keliling Indonesia yang menjangkau 20 kota mulai 30 Mei hingga 23 Juni 2026, karya sutradara Hadrah Daeng Ratu ini sukses memanen air mata. Di setiap kota yang disinggahi, bangku penonton dilaporkan terisi penuh, menyisakan isak haru yang membuktikan bahwa narasi yang diangkat sangat dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.
Secara garis besar, film ini menyoroti kehidupan Ristiana, seorang ibu tunggal yang diperankan oleh Nirina Zubir. Pasca ditinggal oleh sang suami yang dimainkan oleh Dwi Sasono, Ristiana harus berjuang seorang diri di tengah impitan kesederhanaan demi membesarkan ketiga buah hatinya, yakni Tama, Dewi, dan Tria.
Namun, roda waktu berputar kejam. Ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa dan menghadapi kompleksitas hidup mereka masing-masing, Ristiana yang mulai rentan justru harus menghadapi kenyataan pahit, ‘dibuang’ ke panti jompo lantaran anak-anaknya merasa tak lagi mampu merawatnya di rumah.
Produser sekaligus CEO Leo Pictures, Agung Saputra, mengungkapkan bahwa esensi dari film ini adalah sebuah undangan untuk pulang dan menengok kembali kedalaman hati sanubari kita masing-masing. “Jangan Buang Ibu adalah sebuah kisah yang akan mengajak kita kembali memahami arti cinta, pengorbanan, dan kehadiran seorang ibu dalam hidup kita. Semoga kita juga bisa berefleksi untuk terus bisa memuliakan seorang ibu yang telah melahirkan kita,” ujar Agung.
Daya tarik utama dari film ini tidak hanya bertumpu pada premis cerita yang melankolis, melainkan juga pada totalitas departemen keaktrisan. Nirina Zubir menghadapi tantangan akting yang luar biasa berat dengan mengeksplorasi tiga fase usia yang berbeda, mulai dari umur 40 tahun, 50 tahun, hingga bertransformasi penuh menggunakan riasan prostetik menjadi sosok nenek berusia 60 tahun dengan kerutan yang mendalam di wajah. Transformasi fisik ini diimbangi dengan pendalaman karakter yang prima untuk menangkap gestur tubuh orang tua yang mulai digerogoti usia.

Proses melepaskan diri dari karakter Ibu Ristiana ternyata menyisakan impresi yang mendalam pada personaliti Nirina dalam kehidupan sehari-hari. “Di film Jangan Buang Ibu, Nirina mendapat tantangan untuk memerankan karakter dengan tiga periode waktu yang berbeda; 40, 50, dan 60-an tahun. Terbayang nggak sih kita memproyeksikan diri kita sendiri 20 tahun yang akan datang, yang kita belum tahu seperti apa? Makanya setiap gerak-geriknya, jalannya, cara tatapan matanya, untuk Nirina lepas agak susah,” ujar Nirina Zubir.
Perubahan ritme hidup pun ia rasakan pasca-produksi usai. “Salah satu perubahan Nirina setelah memerankan Ibu Ristiana adalah sekarang Nirina kalau ngomong lebih santai. Jauh daripada Nirina dulu. Dulu kalau ngomong tuh berapi-api. Tapi setelah memerankan karakter Ibu Ristiana, seperti ada pertanyaan ‘Buat apa sih buru-buru? Santai aja lagi,” tambah Nirina.
Sisi emosional yang kuat juga terpancar dari Refal Hady, yang didapuk memerankan tokoh Tama, anak sulung yang memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga setelah kepergian ayahnya. Menghadapi konfrontasi batin antara tuntutan realitas hidup dan baktinya kepada orang tua membuat karakter Tama menjadi representasi dari kegelisahan banyak anak sulung di dunia nyata.
Bagi Refal, keterlibatannya dalam proyek ini terasa sangat personal dan emosional, terlebih ia harus menyaksikan respons emosional penonton sepanjang kegiatan roadshow. “Film ini memperlihatkan perjuangan seorang ibu yang selalu memprioritaskan anak-anaknya dari kecil, dengan susah payah, sosok ibu yang tangguh, dan tanpa kehadiran sosok ayah.
Tapi ketika besar, anak-anaknya mengalami dilema antara harus memprioritaskan ibu atau tidak. Ini dilema yang sekarang jadi realitas keadaan banyak dari kita,” ujar Refal Hady.
Pengalaman akting ini sekaligus membangkitkan kembali memori pribadinya akan sosok sang bunda yang telah tiada. “Ini sangat jadi pembelajaran bagiku. Dan menjadi refleksi, apalagi karena Mamaku sudah tidak ada. Aku jadi makin rindu sama almarhumah Mama. Seorang ibu adalah sosok yang tidak pernah tergantikan,” tambah Refal.
Ditopang oleh jajaran pemain papan atas seperti Amanda Manopo, Saputra Kori, Basmalah Gralind, Erika Carlina, Saskia Chadwick, Fadly Faisal, Farrell Rafisqy, Jared Ali, dan Humaira Jahra, film ini menjanjikan sebuah ansambel akting yang solid.
Kekuatan di balik layar pun tidak main-main, dengan keterlibatan nama besar seperti Luna Maya dan Yasmin Napper yang duduk di kursi Produser Eksekutif bersama Nur Iman Syafe’i dan Evi Surahmawati. Kombinasi penyutradaraan Hadrah Daeng Ratu yang jeli melihat lanskap emosi manusia dengan naskah yang membumi membuat Jangan Buang Ibu menjadi menu tontonan wajib pada bulan Juni ini, sebagai pengingat hangat di tengah dinginnya hiruk-pikuk dunia modern./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo

















