JAKARTA – Adalah pentas jazz berformat festival yang tertua di Indonesia, begitulah “sebutannya”. Jazz Goes to Campus, “nama baptis”nya digelar perdana pada tahun 1977, di Taman Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Yang terletak di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Memang penyelenggaranya adalah mahasiswa FE-UI.
Lalu selanjutnya JGTC pun dibuat sebagai event saban sekali dalam setahun. Biasanya di penghujung tahun. Panggungnya, di kesempatan awal, terbilang “sederhana”. Nah, hebatnya JGTC mampu mengundang dan lantas memanggungkan banyak musisi jazz terkemuka tanah air. Perlahan tapi pasti, menjadi panggung jazz yang mampu menarik minat kaum muda untuk datang menonton.
Mungkin ya, dikarenakan di saat itu, acara-acara jazz terbilang masih terbatas. So, JGTC pun berhasil memiliki magnet, menarik perhatian publik. Dibikinnya biasanya sekitar siang hari. Mendekati senja, sudah selesai. Memang ga lama…
Dan adalah musisi, doski pianis yang juga penulis lagu dan aranjer cum produser, Candra Darusman yang menjadi salah satu “dokter kandungan”. Maksudnya, “dokter” yang melahirkan JGTC tersebut. Saat itu tentu saja, dia masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi. “Anak” Ekonomi sih, tapi yang menjadi bidan dari kelahiran JGTC tersebut. Sebenarnya, bidan atau dokter kandungan dan kebidanan? Memang seorang Candra yang jadi motor dalam pendirian JGTC. Dimana setelah itu, ia lalu dikenal sebagai pendiri dan pianis dari kelompok Chaseiro. Isinya, anak-anak UI juga tapi lintas fakultas.

Setelah Chaseiro, Candra merilis 2 buah album solo. Yang penjualannya eh lumayan lho di pasaran. Menjelang memasuki pertengahan 1980-an, Candra memasuki grup band Karimata. Eits, sedikit aja intermezzo tentang Candra ya. Maaf, permisi sejenak….
Back to the Festival. Then, JGTC memang terjaga rutinitasnya sebagai event tahunan dengan bisa dibilang gengsinya semakin meninggi saja. Dan dari hanya 2 atau 3 grup yang tampil, pada tiap penyelenggaraannya. Terus bertambah menjadi 4 atau 5 grup band. Dimana pada melampaui dekade pertama era 2000-an, JGTC tampil dengan multi-stage. Tentu saja, performers nya bertambahlah.
Bahkan kemudian JGTC memiliki event-event tambahan. Yang melengkapi event festivalnya. Antara lain adalah penyelenggaraan kompetisi untuk grup jazz muda. Yang berhasil menelurkan banyak bakat yang “baik dan benar”. Notabene bisa disebut sebagai para musisi generasi kemudian dari jazz Indonesia. Seperti tahun ini, JGTC menggandeng Pemerintah DKI Jakarta, untuk menyelenggarakan event pre-festival. Pre-eventnya berbentuk konser spesial. Menampilkan Jazz Bigband, dengan mayoritas musisi muda. Ditampilkanlah Bandung Jazz Orchestra. Dengan konduktor Brury Effendi.
Sebuah ide lumayan nampol. Ada konser spesial, pakai bigband dan isinya mayoritas musisi muda. Menarik kan? Tentu saja dong. Tak hanya itu saja, ada 2 penyanyi muda juga yang tampil, Alonzo Brata dan Rosemary Jane. Dengan karakter suara nan khasnya. Jelas, menambah keunikan sajian konsep acara ini. Lagi-lagi, dua-duanya penyanyi “next-generation” pastinya….
Pada speech secukupnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengucapkan harapannya, semoga acara ini bisa jadi momentum menuju peringatan 50 tahun penyelenggaraan JGTC. Sekalian juga sebagai bentuk dukungan kelak, atas 500 tahun usia kota Jakarta di tahun 2027 mendatang.
Dalam pandangannya, Rano Karno juga menyampaikan, JGTC tak hanya menyuguhkan keindahan jazz. “Tapi juga menjadi panggung ide, ekspresi dan kolaborasi yang akan memperkuat identitas Jakarta sebagai kota Global Berbudaya.” Lanjutnya lagi, seni tidak hanya berkaitan dengan estetika semata, tetapi sekaligus menjadi penggerak ekonomi.

Maka, tambah Rano, “Berbagai ruang kreatif mempunyai peran signifikan dalam menciptakan ekosistemekonomi kreatif yang berkelanjutan. Sekaligus menghadirkan akses yang lebih luas, bagi pelaku kreatif. Untuk terus berkarya dan berinovasi.”
Harapannya, semoga JGTC dapat terus berkembang sebagai ruang bersama, yang mendorong kreatifitas. Menggerakkan perekonomian, lalu memperkuat budaya lokal. Serta membuka ruang kolaborasi dalam menciptakan ekosistem ekonomikreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Acara pada Sabtu malam itu dimulai dengan sharing-session. Menampilkan para pembicara Sri Hanuraga (musisi muda), Chico Hindarto (alumni FE-UI sekaligus promotor jazz dan mantan Ketua Umum Forum Jazz Indonesia), Agus Setiawan Basuni (penggerak jazz, sekaligus wartawan). Dan tentunya, Candra N. Darusman, sang founder JGTC.
Seusai sesi obrolan Santai, yang dipandu oleh Kepra tersebut. Kemudian panggung diisi oleh Bandung Jazz Orchestra. Sebuah kelompok bigband jazz, datang dari Bandung. Dengan berisikan selengkapnya, deretan rhythm-sestions dengan Nadine Adrianna (electric piano), Donny Herdanto (keys), Ilham Septia Indra Nugraha (electric bass), Gilang Fauzi Pratama (electric guitar), Reyhan Susanto dan Filipus Cahyadi (drums) serta perkusi, Muhammad Rifqy Hakim.

Pasukan tiup terdiri dari Muhamad Raafi Dipoaji (tenor sax), Mohamad Rifkiansyah (tenor sax), Jilan Luandri Hakim (alto sax), Deiva Muhamad Fiqry (alto sax), Bonny Buntoro (bariton sax). Lalu Trombone 1 oleh Alden Jatiwastika Yunanto. Trombone 2 oleh Kristian David. Trombone 3 oleh Aldy Nugraha Ruhyat. Lalu Bass Trombone oleh Muhammad Yogi Malachim.
Trumpet 1 Fairuz Triadi. Lalu, Trumpet 2 oleh Deni Alamsyah. Trumpet 3 dengan Iwan Hermawan dan Muhammad Naufal Dhiya’ulhaq. Dan, trumpet 4 oleh Diana Saraley. Sang conductor, Brury Effendi pada beberapa lagu atau part juga bermain trumpet.
Mereka menyuguhkan tak kurang dari 12 komposisi. Dengan dukungan aransemen big band oleh beberapa aranjer tamu. Antara lain ada Adra Karim, Ari Renaldi, Erwin Gutawa dan Tohpati.
Pembuka adalah ‘Overture’ , kemudian “There’ The Rub.” Lalu ada “Oh ya”, “Bewitched” dengan Rosemary Jane sebagai vokalis. Selanjutnya ada, “Spain”. Diteruskan dengan “Bento” yang menampilkan Alonzo Brata. “Di Batas Waktu”, “Sketsa”. “Layang – Layang”, dengan duo Rosemary Jane dan Alonzo Brata. Selain itu ada “Secret Agent”, Maestro” dan “Asmaraku Asmaramu”.
Adra Karim tidak sempat hadir karena sedang di luar Jakarta. Ari Renaldi menjadi konduktor pada sesi terawal. Sementara Erwin Gutawa datang menonton, duduk manis di antara penonton. Adapun Tohpati, hadir pula dengan gitarnya, menjadi gitaris.
Sebuah jazz di malam minggu yang lumayan menyegarkan jiwa dan rohani. So, ditunggu akan pre-event lainnya yang menyehatkan dari JGTC. Siap hadir saat Festival JGTC nanti? Ngh, gimana ya. Ingat-ingat sudah beberapa tahun memang tak sempat hadir menonton langsung. Kayaknya dari sebelum pandemi covid, ga pernah sempat menonton. Jadi, tahun ini gimana?/ JOURNEY OF INDONESIA | Gideon Momongan

















