JAKARTA – Dunia hari ini seolah sedang berjalan tertatih di atas bara. Kabar tentang perang yang tak kunjung usai, alam yang kian meronta karena eksploitasi, hingga rentetan kekerasan terhadap perempuan dan anak, menjadi pemandangan yang menyesakkan dada. Seolah-olah, kerusakan dan kematian telah menjadi keniscayaan dalam peradaban modern.
Namun, di tengah hiruk-pikuk kekacauan itu, politisi perempuan dari Institut Sarinah, Eva Kusuma Sundari, S.E., M.A., menawarkan sebuah refleksi mendalam yang barangkali terlupakan oleh banyak orang yakni pelajaran dari rahim ibu.
Dalam sebuah diskusi hangat di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (17/4), Eva mengingatkan bahwa manusia sebenarnya sudah memiliki bekal dasar untuk menjaga keberlangsungan hidup. Bekal itu bernama “Ekologi Rahim”. Sebuah sistem kehidupan yang tidak mengenal dominasi, melainkan perawatan dan keterhubungan.
Bagi politisi Partai Nasdem ini, krisis global yang kita alami baik ekologi maupun kemanusiaan adalah produk gagal dari paradigma kapitalisme yang akut. Logika survival of the fittest telah mengubah wajah dunia menjadi arena kompetisi yang brutal. Alam hanya dipandang sebagai komoditas, dan tubuh manusia tak lebih dari sekadar objek konsumsi.
“Kita perlu menggeser pemahaman secara mendasar. Bukan sekadar green growth yang masih berbasis relasi dominasi, tetapi sebuah perubahan paradigma menuju kesadaran pro-kehidupan yang berakar pada kesetaraan dan keselarasan, sebagaimana terjadi di dalam rahim ibu,” papar mantan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan ini.
Eva mengajak kita menengok kembali ke dalam ruang paling awal kehidupan manusia. Di sana, tidak ada kompetisi. Yang ada hanyalah sistem yang utuh: air ketuban yang melindungi, plasenta yang menyambung nyawa, hingga tali pusar yang menjadi jembatan nutrisi. Dalam kearifan lokal Jawa, harmoni ini dikenal sebagai Sedulur Papat Limo Pancer, empat unsur yang bergotong royong demi sang jabang bayi.
Pesan yang dibawa Eva bukan sekadar soal biologis, melainkan sebuah pandangan politik dan etika pembangunan. Dalam perspektif Feminisme Pancasila yang ia usung, tubuh bukanlah objek yang bisa diputus dari kesadaran lingkungannya. Memiliki hak atas tubuh berarti memikul tanggung jawab untuk merawat kehidupan itu sendiri.
Jika rahim adalah ekologi mikro, maka bumi adalah ekologi makro. Keduanya bekerja dengan detak jantung yang sama. “Kehidupan hanya dapat berlangsung ketika relasi dijaga. Tanah menyediakan sumber pangan, air menopang kehidupan, udara memungkinkan keberlangsungan hidup, dan energi menggerakkan aktivitas manusia,” jelasnya dengan nada tenang namun tegas.
Eva menyitir filosofi Ibu Bumi dan Bopo Angkoso. Hubungan antara tanah-air dan udara-api ini bukanlah soal siapa menguasai siapa, melainkan tentang keselarasan. “Ketika relasi ini terganggu, maka keberlangsungan kehidupan juga ikut terancam,” tegas aktivis feminis tersebut.
Diskusi yang dihadiri oleh para akademisi seperti sosiolog UGM Dr. Arie Sudjito, pengamat politik Danial Indrakusuma, hingga aktivis HAM Taufan Damanik ini, bermuara pada satu kegelisahan bersama yakni bagaimana negara hadir?
Eva menekankan bahwa Pasal 33 UUD 1945 harus menjadi kompas moral. Sumber daya alam adalah milik bersama untuk kemakmuran lintas generasi. Ia mendorong agar instrumen kebijakan seperti AMDAL diperluas cakupannya menjadi pro life test. Strategi pembangunan harus berani banting setir dari ekonomi ekstraktif yang merusak, menuju ekonomi regeneratif yang memulihkan.
Pancasila, di mata Eva, jangan hanya berhenti sebagai jargon atau hafalan di atas kertas. Ia harus menjadi etika pembangunan yang hidup. Ketika Pancasila masuk ke dalam sanubari pembangunan, maka tanah dan air tidak lagi diperas habis-habisan, melainkan dijaga sebagai bagian dari napas kita sendiri.
Perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran yang paling sunyi dalam diri manusia. Eva percaya, keselarasan antara rogo (tubuh), cipto (pikiran), roso (rasa), dan jiwo (jiwa) adalah kunci. Ketika pikiran kehilangan koneksi dengan jiwa, manusia akan bergerak tanpa arah, menjadi serakah, dan akhirnya menghancurkan rumahnya sendiri yakni bumi.
Namun, ia juga mewanti-wanti bahwa kesadaran individu saja tidak akan cukup jika tidak didukung oleh struktur sosial yang sehat. Negara, keluarga, dan masyarakat harus berfungsi seperti rahim, melindungi dan menumbuhkan.
Sesuai dengan visi keadilan sosial Bung Karno, sistem yang kita bangun tidak boleh memberi ruang bagi penindasan. “Pada akhirnya, arah peradaban ditentukan oleh pilihan yang kita ambil dalam membangun sistem kehidupan. Ekologi rahim telah menunjukkan bahwa kehidupan hanya mungkin berlangsung ketika relasi dirawat, sementara ekologi bumi menegaskan bahwa prinsip tersebut berlaku dalam skala yang lebih luas. Tanpa kesadaran tersebut, krisis yang dihadapi tidak lagi sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan,” pungkasnya./ JOURNEY OF INDONESIA | Morteza


















