JAKARTA – Sebuah hotel di kawasan Senayan, Jakarta, mendadak berubah wajah sepanjang Juli hingga Oktober ini. Bukan karena renovasi, melainkan karena lobinya disulap menjadi galeri seni yang memantik obrolan tentang batas antara yang nyata dan yang semu. ARTOTEL Gelora Senayan membuka tahun pameran 2026 lewat Mirage, sebuah pameran seni rupa yang lahir dari kolaborasi dengan J+ Art Awards 2026, kompetisi seni tahunan yang digagas Connected Art Platform (CAP).
Tema ini dipilih untuk menggambarkan bagaimana realitas hari ini terus bergeser, didorong oleh arus perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang tak pernah benar-benar berhenti. Sembilan seniman muda diberi ruang untuk menafsirkan gejala itu lewat sepuluh karya yang tampil di ARTSpace, area pameran yang menempati lobi hotel tersebut, sejak dibuka pada 24 Juli hingga 24 Oktober 2026.
Kurator J+ Art Awards, Dhanny Sanjaya, yang mewakili Connected Art Platform, menjelaskan bahwa pameran ini mengajak publik menelusuri garis yang kian kabur antara persepsi, realitas, ilusi, memori, dan harapan. “Seperti fatamorgana yang terus berubah ketika didekati, Mirage mempertanyakan bagaimana cara kita memaknai realitas di tengah ketidakpastian,” ujar Dhanny.

Keberagaman itu langsung terasa begitu memasuki ruang pameran. Adril Wak Yong membawa isu identitas lewat karya Patah Kemudi, sebuah refleksi atas krisis jati diri budaya Melayu yang menurutnya kian tergerus zaman. Di sudut lain, Agung Bule justru memilih jalan yang lebih personal lewat KUNING #82, kanvas yang lahir dari proses melukis intuitif, tempat ketidakpastian dan pengalaman batin dibiarkan menuntun tangan sang seniman.
Laut menjadi bahasa tersendiri bagi Camelia Mitasari Hasibuan. Lewat Sound of Nature (Sea Series), ia memaknai lautan sebagai ruang genealogis yang menyimpan jejak suara kehidupan sekaligus pesan keberlanjutan. Sementara itu, Minji Sani menyoroti sisi yang lebih getir dari kehidupan domestik. The Pseudo-Stage: A Shelter of Memory menjadi kritiknya terhadap rapuhnya ruang rumah tangga di tengah gempuran modernisasi dan tekanan sosial-politik yang terus menghimpit.
Sisi kontemplatif turut mengemuka lewat dua karya Mivetboi, MONOLOG RUANG TENGAH. dan Kembali Senja, yang merefleksikan perjalanan emosi serta proses menemukan kembali diri sendiri. Isu ekologi juga tak luput dari perhatian.

Mochamad Rizky Aditya, lewat Ecology without Nature, mengajak audiens meninjau ulang cara manusia memandang hubungannya dengan alam, sesuatu yang menurutnya kerap dianggap selesai padahal terus berubah.
Patricia Geraldine Thebez memilih jalur yang lebih personal sekaligus sosial. The Weight of What Remains merekonstruksi ingatannya sendiri, sembari menyoroti isu kekerasan dan pengalaman perempuan yang jarang dibicarakan terang-terangan. Raka Hadi Permadi lewat Alok-Aruh justru menyentil hal yang tampak sepele, memudarnya budaya saling menyapa dalam kehidupan bermasyarakat. Menutup rangkaian karya, Yung Finando menghadirkan lanskap surealis lewat Urgent, gambaran kecemasan manusia modern yang tenggelam dalam derasnya arus informasi, sekaligus kerinduan akan ruang yang lebih tenang.
Bagi ARTOTEL Gelora Senayan, kolaborasi ini punya makna lebih dari sekadar mengisi lobi dengan karya seni. Christo Gultom, Director of Sales & Marketing ARTOTEL Gelora Senayan – Jakarta, mengatakan pihaknya merasa terhormat bisa menjadi bagian dari perjalanan J+ Art Awards 2026.
“Melalui pameran MIRAGE, kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari perjalanan J+ Art Awards 2026 dan turut memperkenalkan karya-karya para seniman terpilih kepada publik. Kami berharap pameran ini dapat menjadi ruang yang mendorong apresiasi, dialog, dan keterlibatan yang lebih dekat dengan seni kontemporer,” kata Christo.

Mirage dapat disaksikan secara gratis oleh publik hingga 24 Oktober 2026 di ARTSpace, Lobby Level ARTOTEL Gelora Senayan, Jalan Pintu Satu Senayan, Jakarta. Rangkaian pameran ini rencananya akan terus berlanjut sebagai bagian dari roadshow J+ Art Awards 2026, sebelum akhirnya bermuara pada gelaran Oktober Kreasi Ekraf.
Dengan menghadirkan karya-karya lintas isu, dari identitas budaya, kegelisahan ekologis, hingga kritik sosial dalam bingkai visual yang tidak seragam, Mirage menegaskan posisi ARTOTEL Gelora Senayan sebagai ruang yang terbuka bagi eksplorasi seni kontemporer Indonesia.
Bagi masyarakat Jakarta yang ingin menikmati seni tanpa harus melangkah ke galeri formal, lobi hotel di Senayan ini kini menjelma jadi destinasi tersendiri untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan, mana yang nyata dan mana yang sekadar fatamorgana./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















