JAKARTA – Lima tahun lalu, Pagelaran Sabang Merauke masih berpijak di pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta. Tahun ini, pertunjukan tahunan besutan iForte bersama BCA itu tampil di panggung terbesar Tanah Air, Indonesia Arena, Senayan, dengan skala produksi yang jauh berlipat dari edisi-edisi sebelumnya.
Mengusung tema “Hikayat Srikandi Nusantara”, Pagelaran Sabang Merauke 2026 digelar tiga hari berturut-turut pada 21 hingga 23 Agustus 2026. Berbeda dari format sebelumnya yang menampilkan potongan budaya Sabang sampai Merauke secara terpisah, edisi kali ini merangkainya menjadi satu jalinan cerita lewat sosok Srikandi yang mengumpulkan pasukan perempuan dari berbagai penjuru Nusantara.
Koreografer utama Sandhidea Cahyo menyebut lonjakan skala itu terlihat jelas dari jumlah penari dan kompleksitas koreografi yang harus digarap timnya. “Secara jumlah, penarinya bertambah dari tahun lalu sekitar 350 sekian, sekarang menjadi 387 dan nomor koreografi tahun lalu sekitar 70 sekian, sekarang 117 koreografi yang harus kita kerjakan bersama tim,” kata Sandhidea Cahyo, Jumat (21/8/2026).
Total ada sekitar 1.700 pelaku seni, pekerja kreatif, dan tim produksi yang terlibat, mulai dari 15 penyanyi, satu grup band nasional, 387 penari budaya, 50 musisi tradisional, hingga 119 anggota paduan suara gabungan Batavia Madrigal Singers, The Resonanz Children’s Choir, dan Armonia Choir. Jakarta Concert Orchestra ikut mengiringi di bawah arahan konduktor Avip Priatna, sementara lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik Nusantara dikenakan sepanjang pertunjukan.

Raisa didapuk memerankan tokoh sentral, Dewi Srikandi, sebuah peran yang menuntutnya keluar dari zona nyaman sebagai penyanyi panggung. Selain bernyanyi, ia harus mengikuti blocking, akting, dan koreografi bersama ratusan penari lain. “Aku sangat bahagia bukan sekadar aku berada di pagelaran sabang merauke yang begitu kaya ini, tapi aku bangga karena bisa menyampaikan message yang begitu penting, terutama di keadaan Indonesia saat ini,” ujar Raisa dalam konferensi pers usai gelaran perdana di Indonesia Arena, Jumat (21/8/2026).
Sebagai Srikandi, Raisa membawakan lagu ‘Cahaya Hati’ yang ditulis khusus untuk melengkapi jalan cerita. Dalam monolog penampilannya ia menyampaikan pesan yang menjadi inti pertunjukan tahun ini. “Negeri ini adalah milik anak bangsa. Kebudayaan seindah dan sekaya ini hanya Indonesia yang punya. Maka tugas kitalah untuk melestarikannya, dan perempuan sebagai Srikandi-Srikandi Indonesia wajib berada di barisan terdepan untuk peradaban,” tutur Raisa.
Di luar Srikandi, panggung ini juga menghidupkan sejumlah tokoh perempuan lain dalam khazanah cerita Nusantara. Yura Yunita, yang tahun ini memasuki tahun ketiganya bergabung dengan Sabang Merauke, kembali memerankan Mahadewi. Christine Tambunan tampil sebagai Dayang Sumbi, Mirabeth Sonia sebagai Mandeh Rubayah, dan Pradnya Larasari melakoni Calon Arang.

Bagi Yura, tantangan tahun ini datang dalam bentuk aksi panggung yang lebih ekstrem. Ia harus terbang menggunakan sling dari bawah panggung hingga ke langit-langit arena, lalu bergegas ke belakang panggung untuk naik ke atas replika naga berkepala tiga berukuran raksasa, rangkaian adegan yang bahkan mengharuskannya berpindah tempat dengan sepeda motor di tengah pertunjukan. “Tahun ini dikasih challenge yang lebih wow lagi why not? Karena aku suka tantangan dan selalu ingin memberi yang terbaik di setiap penampilan,” ungkap Yura Yunita.
Ia menambahkan, bagian yang memerankan Mahadewi ini menjadi salah satu segmen paling berat dalam produksi tahun ini. “Scene Mahadewi kali ini adalah part yang paling menantang untuk seluruh tim menurut aku,” kata Yura.
Kisah Srikandi dalam pertunjukan ini tidak berdiri sendiri dari konteks sosial di sekitarnya. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sepanjang 2025 terdapat 376.529 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan, naik 14,07 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menjadi salah satu alasan mengapa narasi keberanian perempuan dipilih sebagai benang merah tahun ini, di samping fungsi utama pertunjukan sebagai perayaan kekayaan budaya dari Sabang hingga Merauke.
Perjalanan Sabang Merauke dari panggung terbuka di kaki Candi Prambanan hingga arena tertutup terbesar di Indonesia menunjukkan bagaimana pertunjukan budaya lokal bisa tumbuh setara produksi berskala internasional tanpa kehilangan akar ceritanya. Pagelaran Sabang Merauke 2026 “Hikayat Srikandi Nusantara” resmi menutup rangkaian tiga harinya pada 23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, Jakarta./ JOURNEY OF INDONESIA | Ismed Nompo















