JAKARTA – Sabtu pagi, 5 September 2026, Tennis Indoor Senayan di kawasan Gelora Bung Karno berubah fungsi. Bukan untuk penyelenggaraan event olah raga, melainkan untuk akad nikah massal yang diikuti puluhan pasangan sekaligus. Sejak pukul 08.00 WIB, satu per satu pasangan duduk berdampingan, mengucap ijab kabul di hadapan penghulu, disaksikan keluarga yang datang dari berbagai penjuru Jakarta dan sekitarnya.
Acara ini digagas Yayasan Meutia Hatta bersama Kementerian Agama, dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad Rahmi Hatta. Namun yang membedakan kegiatan ini dari sekadar seremoni adalah alasan di baliknya kegiatan ini, karena banyaknya pasangan yang datang bukan untuk menikah untuk pertama kali. Disini mereka bertujuan untuk mendapatkan pengesahan hukum atas pernikahan yang sudah lama mereka jalani secara agama.
Persoalan status hukum pernikahan ini nyatanya masih membebani cukup banyak keluarga di Indonesia. Tanpa dokumen resmi, anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut kerap kesulitan mengurus akta kelahiran, hingga berdampak pada akses pendidikan dan layanan publik lainnya.
Ketua Yayasan Meutia Hatta, Meutia Hatta, menjelaskan bahwa kepedulian terhadap isu ini bukan sekadar agenda sosial biasa, melainkan warisan nilai yang ingin ia teruskan dari keluarganya sendiri. “Terutama isbat nikah. Khususnya dalam peran kita memberdayakan ibu-ibu, banyak anak-anak yang belum mendapatkan sertifikat atau status hukum,” ujar Meutia.
Ia berharap program semacam ini tidak berhenti di Jakarta, melainkan bisa direplikasi ke berbagai daerah yang warganya masih kesulitan mengakses layanan isbat nikah.
Acara di GBK ini tidak hanya soal pernikahan, namun merangkap kegiatan ini dengan aksi donor darah yang diikuti lebih dari 100 pendaftar, sekaligus layanan pembuatan paspor hasil kerja sama dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Warga yang datang bisa menyelesaikan beberapa urusan administratif sekaligus dalam satu hari, tanpa perlu bolak-balik ke kantor berbeda.

Konsep “satu hari banyak solusi” ini rupanya juga menarik perhatian pemerintah. Berdasarkan penuturan panitia dalam laporan resmi kegiatan, perkawinan dinilai bukan hanya peristiwa keagamaan dan sosial, melainkan juga peristiwa hukum yang wajib dicatat agar hak-hak pasangan dan anak mendapat perlindungan yang jelas.
Kegiatan nikah massal bertajuk “Ikatan Cinta” ini pun turut dihadiri unsur Kementerian Agama, menegaskan bahwa isbat nikah menjadi perhatian bersama, bukan sekadar program yayasan semata.
Selain layanan hukum dan sosial, Yayasan Meutia Hatta juga membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memperkenalkan produk mereka di lokasi acara. Bagi Meutia, pemberdayaan ekonomi warga sama pentingnya dengan bantuan langsung. Keluarga pasangan yang menikah pun mendapat makanan dan jajanan gratis dari yayasan, menambah suasana kekeluargaan di tengah gedung olahraga yang biasanya identik dengan kompetisi.
Kegiatan hari itu juga tidak lepas dari sejarah keluarga Hatta sendiri. Meutia mengingatkan bahwa ayahnya, Mohammad Hatta, pernah menjabat sebagai ketua pertama Palang Merah Indonesia, sehingga aksi donor darah yang digelar hari ini punya benang merah dengan jejak kepedulian keluarganya di masa lalu. “Selama ini orang hanya tahu Ibu Hatta, ternyata ada fondasi keluarga yaitu Ibu Rahmi yang membentuk keluarga ini menjadi keluarga yang seutuhnya,” ujar Meutia, mengenang sosok neneknya yang tahun ini genap berusia satu abad jika masih hidup.
Bagi Meutia, momen ini bukan titik akhir. “Ini baru awal program sosial kami, CSR kami terhadap masyarakat umum, menandakan bahwa nikah massal dan layanan sosial di GBK hanyalah pembuka dari rangkaian program yang lebih panjang.
Malam harinya, peringatan satu abad Rahmi Hatta berlanjut dengan pertunjukan seni dan fashion performance dalam lima babak, melibatkan seniman, musisi, penari, dan model, menceritakan perjalanan hidup perempuan yang selama ini berdiri di balik nama besar suaminya, namun jarang mendapat sorotan tersendiri./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk











