JAKARTA – Nostalgia masa lalu acap kali hanya menjadi sebuah kenangan manis. Namun, di tangan sang maestro jazz Indonesia, Indra Lesmana, sebuah perjalanan napak tilas ke masa remaja justru bertransformasi menjadi karya monumental. Proyek musikal bertajuk Sydney Reunion kini bersiap menyapa publik Jakarta, membawa serta tiga musisi kawakan Australia sekaligus menandai pencapaian fantastis sang legenda dengan perilisan album ke-100 sepanjang kariernya.
Konser spesial ini dijadwalkan menghentak panggung DeConcert Room, DeHeng House, Jakarta Selatan, pada 30 Juni 2026 mendatang. Indra Lesmana akan kembali berbagi panggung dengan sahabat-sahabat lamanya yang terpisah jarak dan waktu selama hampir empat dekade, yakni saxophonist Dale Barlow, bassist Steve Hunter, dan drummer Andy Gander.
Jauh sebelum dikenal sebagai ikon jazz Tanah Air, kepingan sejarah bermusik putra dari pasangan legenda Jack dan Nien Lesmana ini banyak terbentuk di Negeri Kangguru. Pada akhir era 1970-an, Indra muda menimba ilmu di New South Wales Conservatorium of Music, Sydney. Di sanalah ia menyerap nyawa musik jazz dan fusion secara langsung, menyaksikan pertunjukan dari panggung ke panggung, dan membangun fondasi musikalitasnya.

“Sydney adalah bagian penting dari perjalanan hidup saya. Banyak hal yang saya pelajari di sana, bukan hanya soal musik tetapi juga bagaimana membangun hubungan dengan sesama musisi,” ungkap Indra dalam jumpa pers.
Benih Sydney Reunion sendiri mulai bersemi pada tahun 2024. Niat awal Indra yang sekadar ingin bernostalgia mengitari sudut-sudut kota Sydney berubah menjadi ajang reuni emosional. Pertemuannya dengan Steve Hunter, kawan lamanya sejak usia 15 tahun, memercikkan kembali chemistry musikal yang sudah puluhan tahun terpendam. Pertemuan itu kemudian meluas dengan bergabungnya Dale Barlow dan Andy Gander. Obrolan santai soal grup fusion legendaris berujung pada tekad bulat untuk kembali meramu nada bersama.
Sepulangnya ke Sanur, Bali, Indra langsung mengurung diri di studio, menulis serangkaian komposisi baru yang kemudian direkam langsung di Australia. Hasil racikan lintas benua inilah yang melahirkan album Sydney Reunion. Kehadiran album ini terasa semakin esensial karena menjadi genapnya 100 album yang telah dilahirkan Indra Lesmana sejak ia debut di usia belia.

“Saya memang selalu punya keinginan untuk membuat karya baru. Kalau ada lagu yang selesai ditulis, saya ingin mewujudkannya menjadi rekaman dan album. Saya melakukan itu sejak kecil dan sampai sekarang masih menikmati prosesnya,” kata Indra.
Pada malam pertunjukan nanti, penonton akan dimanjakan dengan sekitar 12 komposisi dari album Sydney Reunion, dipadukan dengan karya-karya lawas yang tercipta saat Indra menetap di Sydney era 80-an. Alunan jazz fusion yakni sebuah genre yang meleburkan dinamika rock, ritme funk, harmoni jazz, hingga sentuhan elektronik yang akan menjadi sajian utama yang memanjakan telinga. Penampilan pembuka dari Alonzo Brata pada pukul 19.30 WIB dipastikan akan semakin memanaskan suasana sebelum kuartet legendaris ini naik panggung.
Lebih dari sekadar pertunjukan musik, Sydney Reunion juga membawa misi edukasi dan diplomasi budaya. Bersama Indonesia Australia Business Council (IABC), proyek ini menggelar sesi masterclass di beberapa kota untuk membagikan pengalaman kepada generasi musisi muda. “Inisiatif ini adalah jembatan kultural yang kuat antara Indonesia dan Australia”, tegas Mariam Kartikatresni selaku National President IABC.

Bagi para penikmat musik yang ingin menjadi bagian dari sejarah ini, pihak penyelenggara membanderol tiket seharga Rp1 juta untuk kategori umum. Terdapat pula harga khusus sebesar Rp800 ribu bagi anggota IABC dan alumni perguruan tinggi Australia, serta kuota tiket terbatas dengan harga spesial yang didedikasikan bagi pelajar maupun siswa sekolah musik.
Menambah nilai eksklusivitas, momen konser ini sekaligus menjadi ajang peluncuran album fisik Sydney Reunion edisi kolektor. Karya ini dicetak secara terbatas dalam format double vinyl berdurasi 70 menit serta USB audio beresolusi tinggi, menjadikannya artefak wajib bagi para kolektor musik Tanah Air.
Di DeHeng House nanti, musik tidak sekadar dimainkan. Melalui Sydney Reunion, Indra Lesmana membuktikan bahwa persahabatan, dedikasi, dan bahasa universal bernama musik mampu menembus batas negara dan bertahan melintasi waktu./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















