JAKARTA – Liburan bagi masyarakat Indonesia di tahun 2026 bukan lagi sekadar urusan berpindah tempat tidur. Ada kecenderungan yang semakin kuat bahwa kenyamanan fasilitas dan kepastian tipe bangunan menjadi penentu utama sebelum memesan tiket perjalanan. Fenomena ini tercermin jelas dalam data terbaru yang dirilis oleh platform perjalanan digital, Agoda.
Dalam laporan perilaku pencarian tahun ini, wisatawan asal Indonesia menunjukkan karakteristik yang cukup kontras dibandingkan dengan pelancong dari negara Asia lainnya. Bayangkan saja, hampir separuh dari wisatawan domestik atau sekitar 45 persen, sangat spesifik dalam menentukan tipe akomodasi sejak awal pencarian. Angka ini melonjak tajam, bahkan dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata wisatawan di kawasan Asia yang hanya menyentuh angka 19 persen.
Bagi mereka, definisi “rumah kedua” saat berlibur masih didominasi oleh hotel konvensional dengan persentase 17 persen. Namun, ada pergeseran menarik di mana apartemen (7 persen) dan vila pribadi (5 persen) mulai mencuri perhatian. Hal ini menandakan bahwa privasi dan ruang yang lebih luas kini menjadi kemewahan baru yang dicari oleh pasar Indonesia.
Selain tipe bangunan, urusan perut dan rekreasi air menjadi magnet yang sulit ditolak. Di tengah padatnya aktivitas wisata, fasilitas sarapan muncul sebagai filter pencarian kedua paling populer di Asia. Indonesia sendiri tidak absen dari tren ini. Sekitar 6 persen wisatawan kita menjadikan sarapan gratis sebagai syarat mutlak. Bagi banyak orang, memulai hari dengan makanan yang sudah tersedia di penginapan bukan hanya soal kepraktisan, tapi juga bagian dari nilai tambah sebuah perjalanan.
Tak ketinggalan, keberadaan kolam renang tetap menjadi primadona. Di tengah iklim tropis, fasilitas ini dianggap sebagai elemen krusial untuk meningkatkan kualitas menginap, baik bagi keluarga yang membawa anak-anak maupun pelancong solo yang ingin melepas penat.
Gede Gunawan, Senior Country Director Agoda untuk Indonesia, mengamati perubahan perilaku ini sebagai bentuk kedewasaan wisatawan dalam memilih. “Di tahun 2026, wisatawan Indonesia mencari penginapan yang terasa pas, baik dari segi kemudahan, pilihan, maupun kenyamanan. Memilih tipe akomodasi menjadi prioritas utama, namun kolam renang, makanan lezat, dan ulasan terpercaya juga berperan penting,” ujarnya.

Ada satu temuan yang cukup unik: Indonesia menjadi satu-satunya negara di mana akses internet masuk dalam daftar 10 filter pencarian teratas. Di era kerja hibrida dan kebutuhan konten media sosial yang tak terbendung, konektivitas yang andal kini sejajar kepentingannya dengan kenyamanan tempat tidur. Wisatawan seolah enggan terisolasi dari dunia digital meski sedang berada di destinasi terpencil sekalipun.
Di sisi lain, standar kualitas juga semakin ketat. Wisatawan Indonesia mulai selektif dengan hanya melirik akomodasi yang memiliki skor ulasan 8 ke atas. Sebanyak 6 persen pencari mengandalkan testimoni tamu sebelumnya untuk memastikan mereka tidak “terjebak” oleh foto promosi yang terkadang menipu.
Fleksibilitas juga menjadi kata kunci di tahun 2026. Fitur pembatalan gratis dan beragamnya metode pembayaran menjadi pertimbangan utama. Wisatawan menginginkan rasa aman; mereka ingin tahu bahwa uang mereka tidak akan hilang jika rencana tiba-tiba berubah.
Menariknya, tren ini muncul bertepatan dengan momentum perayaan ulang tahun ke-21 Agoda. Bagi mereka yang jeli melihat peluang, platform ini menawarkan promo besar-besaran hingga 60 persen pada periode 7–21 Mei, dengan puncaknya berupa flash sale hingga 70 persen di tanggal 19 Mei.
Pada akhirnya, data pencarian ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ia adalah cermin dari harapan masyarakat Indonesia terhadap sebuah liburan: sebuah pengalaman yang terencana dengan baik, terkoneksi secara digital, namun tetap mengutamakan kenyamanan fisik dan ketenangan pikiran./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk


















