Bebas secara finansial merupakan salah satu impian yang didambakan oleh hampir semua orang. Kebebasan finansial atau financial freedom dapat dipahami sebagai suatu kondisi saat seseorang memiliki pendapatan yang mencukupi semua kebutuhan hidupnya, tanpa perlu aktif bekerja lagi. Pendapatan bulanan seseorang yang bebas secara finansial biasanya datang dari passive income berupa hasil bisnis, investasi, dan aset simpanan lain yang menghasilkan.

Meskipun begitu, kebebasan finansial hanya akan jadi angan-angan kalau tidak dipersiapkan. Untuk itu, tanamduit hadir sebagai mitra masyarakat untuk mempersiapkan kebebasan finansialnya. Tanamduit merupakan platform digital yang menyediakan berbagai pilihan produk investasi yang beragam dalam satu aplikasi. Produk-produk investasi yang ditawarkan di antaranya reksa dana, Surat Berharga Negara (SBN) ritel, emas, dan asuransi.

Seperti yang disampaikan oleh Rini Hapsari, Co-Founder & Managing Director tanamduit bahwa pihaknya memahami bahwa ada beberapa alasan yang mendasari masyarakat untuk berpikir dua kali dalam mulai berinvestasi, sehingga tanpa sadar melupakan manfaat-manfaat besar dari investasi itu sendiri, di antaranya mempersiapkan dana darurat, dana pensiun, hingga kebebasan finansial yang jadi cita-cita banyak orang.

"Oleh karena itu, tanamduit hadir untuk memberikan masyarakat Indonesia kenyamanan dan kemudahan investasi dengan fitur, tools, dan beragam promo menarik seperti cashback hingga 100% selama periode ShopeePay Super Online Deals. Dengan kenyamanan dan keuntungan tersebut, diharapkan cita-cita kebebasan finansial dapat tercapai di masa mendatang,” pungkasnya.

Ragam pilihan produk investasi di tanamduit dapat dibeli mulai dari Rp10.000 saja, seperti reksa dana dan produk emas ‘Emas Suka-suka’ yang baru saja diluncurkan pada awal bulan lalu. Sejalan dengan namanya, pengguna bisa berinvestasi emas dengan nominal rupiah sesuka hati dengan minimum pembelian mulai dari Rp10.000 saja. Emas Suka-suka merupakan produk logam mulia produksi PT Antam, Tbk yang dapat dibeli dengan harga terjangkau. Selain itu, emas juga bisa dicetak mulai dari 0,5 gram.

Selain emas dan reksa dana, ragam pilihan produk investasi lainnya di tanamduit juga bisa jadi opsi diversifikasi investasi. Diversifikasi investasi merupakan salah satu strategi untuk meminimalisir risiko dari investasi. Mudahnya, pengguna tidak hanya berinvestasi di satu produk investasi saja.

Nah, sebelum mulai mendiversifikasikan portofolio investasi kamu, simak tips diversifikasi ala tanamduit berikut:

Amankan masa depan bersama tanamduit IstAmankan masa depan bersama tanamduit (Ist)

1. Kenali profil risiko investasi kamu
Mengenali profil risiko sangat penting agar kamu tidak salah pilih produk investasi ketika memulai atau melakukan diversifikasi. Misalnya, profil risiko investasi kamu konservatif, artinya toleransi kamu terhadap risiko investasi cukup rendah. Jika begitu, kamu bisa melakukan diversifikasi investasi dengan memperbanyak porsi di produk investasi yang risikonya rendah seperti reksa dana pasar uang atau Surat Berharga Negara (SBN). 2. Sesuaikan dengan tujuan dan jangka waktu investasi
Selain mengenali profil risiko, kamu dapat menyesuaikan diversifikasi investasi berdasarkan tujuan investasi yang telah direncanakan. Misalnya, jangka waktu kamu berinvestasi untuk mencapai tujuan keuangan masih cukup panjang dan kamu adalah seorang risk taker yang mengharapkan imbal hasil tinggi, kamu bisa memperbanyak porsi investasi di produk reksa dana saham. Meskipun begitu, jangan lupa juga persiapkan dana darurat dengan menginvestasikan uangmu pada produk investasi risiko rendah agar mudah dicairkan. 3. Tentukan besarnya kebutuhan dari masing-masing tujuan keuangan
Tidak kalah penting, setelah memahami profil risiko dan menetapkan tujuan investasi kamu, tentukan juga target dana yang ingin kamu capai serta berapa lama waktu untuk mencapainya. Jika target dana dan waktu sudah ditentukan, hal ini akan memudahkan kamu untuk mengatur alokasi diversifikasi investasimu. Untuk mempelajari lebih jauh, bisa disimak simulasinya di artikel blog tanamduit berikut https://id.tanamduit.com/tips-diversifikasi-investasi-untuk-pemula.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki strategi diversifikasi investasi yang berbeda. Tips di atas bisa kamu jadikan acuan awal untuk memulai diversifikasi investasi kamu. Melalui aplikasi tanamduit, kamu bisa diversifikasikan investasimu dengan ragam pilihan produk yang tersedia, mulai dari reksa dana, SBN ritel, sampai emas. Jadi, tidak perlu repot lagi untuk pindah-pindah aplikasi, karena kebutuhan diversifikasi investasimu udah ada di tanamduit.

Proses transaksi juga mudah dan menguntungkan, salah satunya dengan menggunakan pembayaran digital ShopeePay yang bebas biaya top-up dan banyak promo menarik setiap bulannya. Khusus di tanggal 15-21 Juli 2021 ini, bisa menikmati cashback hingga 100% di kampanye ShopeePay Super Online Deals.

Yuk, mulai investasi di tanamduit untuk wujudkan impian kebebasan finansial di kemudian hari!/ JOURNEY OF INDONESIA

Dari sekian banyak bentuk investasi, kepemilikan properti menjadi bentuk investasi yang paling banyak dipilih oleh masyarakat. Bahkan ketika pandemi Covid-19 melanda tanah air yang berimbas pada banyaknya industri kolaps dan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat, bisnis properti tetap berjalan.

Nah, untuk membuka wawasan dan menghindari diri dari keadaan yang tidak menguntungkan tersebut, diinisiasi oleh Pramdana selaku Konsultan Properti & Keuangan sengaja mengadakan Webinar bertema "Investor Mindset: Bedah Tuntas Investasi Properti Bodong", Sabtu (6/3/2021).

Di pandu oleh Farah Nida Khansa sebagai Moderator dan menghadirkan pembicara Kresna S. Prameswara dari Property Investment Consultant PT. Griyadanaku Digital Investama serta Isa Meilia dari Kantor Notaris/PPAT Isa Meilia, keduanya mencoba membuka mindset dan perlakuan kehati-hatian ketika masuk dalam ceruk ini.

Kresna menilai bahwa kecenderungan masyarakat berinvestasi dalam bentuk properti bisa dimaklumi. "Ada beberapa alasan yang mendasar," ujarnya.. "Diantaranya tanah termasuk growing assets (hukum suplay dan demand), produk properti bisa berfungsi sewa yang menghasilkan pendapatan sewa secara rutin, dan properti merupakan cross generation models (distribusi cashflow di hari tua)".

Alasan lainnya menurut Kresna, opportunity cost untuk produk properti sangat minim bahkan hampir tidak ada. Justru produk properti memiliki keuntungan (cuan) yang lebih pasti. Sebab tanah merupakan growing asset dengan kenaikan harga berkisar 5 sampai 7 persen per tahun. Jika dalam bentuk bangunan dapat menghasilkan sewa (fixed income asset) berkisar 4-6 persen per tahun. Dengan demikian nilai keuntungan dari aset produk properti berkisar antara 9 hingga 13 persen per tahun.

Farah Nida Khansa dan Kresna S. Prameswara IstFarah Nida Khansa dan Kresna S. Prameswara (Ist)

Bandingkan dengan investasi dalam bentuk deposito atau tabungan. Untuk deposito jangka waktu 5 tahun dengan rate 4,5 persen memang lebih baik dibanding 2 persen jika disimpan dalam bentuk tabungan. Tetapi dalam investasi deposito kita akan terkena opportunity cost karena dalam SBN 10 tahun dengan rate 6,2 persen.

Investasi dalam bentuk saham dan reksadana, tentu membutuhkan kejelian dan kemampuan untuk membaca pasar. Dan ini tidak semua orang memiliki kemampuan. Demikian pula jika membeli investasi dalam bentuk emas, perlu dipikirkan cara penyimpanannya agar aman dari pencurian. “Jadi investasi properti memang tergolong mudah baik proses maupun mekanisme kepemilikannya. Masyarakat juga memiliki pilihan untuk membayarnya bisa dibayar cash atau diangsur,” tambahnya.

Menurut Kresna terdapat tiga hal yang harus dipahami oleh masyarakat untuk mencari properti:

Pertama adalah segitiga properti meliputi akses menyangkut jalan, kualitas bangunan dan harga. Aspek jalan misalnya apakah jalan yang menghubungkan termasuk jalan propinsi atau jalan arteri, bisa dilalui 1 atau dua mobil, lokasinya masuk atau dipinggir jalan dan apakah dekat KRL/pintu tol. Aspek kualitas bangunan misalnya menggunakan batako atau hebel, satu atau dua dinding, rumah subsidi atau komersil. Lalu terkait harga, apakah harganya dibawah atau di atas pasar, pantaskan dengan fasilitas yang ditawarkan.

Kedua adalah harga tanah. Dalam lingkup daerah berkembang atau disebut Sun Rise, tentu harganya akan cepat berubah. Misalnya yang dulu daerah Sun Rise adalah Citayam dan Cibubur, untuk saat ini daerah yang masuk Sun Rise misalnya Parung Panjang, BSD, dan Bojong Gede.

Dan Ketiga adalah soal legalitas. Kresna mengingatkan saat membeli properti, masyarakat harus mengecek legalitasnya. “Check, Clean and Clear!” katanya.

Legalitas ini meliputi izin lingkungan, peruntukan tanah yang bisa dicek di website BPN, dan status tanah apakah tanah SHM, girik atau AJB.

Notaris Isa Meilia dari Kantor NotarisPPAT Isa Meilia IbonkNotaris Isa Meilia dari Kantor Notaris/PPAT Isa Meilia (Ibonk)

Tak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh Isa Meilia dari Kantor Notaris dan PPAT Isa Meilia. Notaris cantik ini mengatakan bahwa investasi dalam bentuk properti harus memperhatikan tiga aspek utama yakni Legalitas, Izin konstruksi (IMB, Surat Tanah) dan Bonafitas Developer.

Isa juga menyebutkan bahwa investasi properti dalam bentuk rumah siap huni jauh lebih mudah aspek legalitasnya. Karena bentuk fisik bangunan sudah ada, sehingga konsumen tinggal mengecek legalitas lainnya termasuk kepemilikan sertifikat dan IMB. “Masalah seringkali muncul jika properti itu masih indent, konsumen seolah hanya membeli gambar lalu bayar uang muka,” kata Isa.

Pada kasus seperti ini, konsumen harus memperoleh kepastian dari developer soal bentuk bangunan, kapan dibangun, kapan serah terima aspek legalitas, kapan sertifikat dapat dimiliki konsumen dan lainnya. Jangan lupa cek juga status kepemilikan lahan apakah lahan sudah aman secara legal maupun administrasi atau malah dalam status sengketa.

Lia juga mengingatkan pentingnya mengikat perjanjian jual beli dengan melibatkan notaris/PPAT. Hal ini penting untuk mengantisipasi wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak. Dalam perjanjian jual beli tersebut tentu harus disertakan batas pembayaran, dan sanksi atau denda jika memang ada.

“Jangan tergiur dengan promosi yang muluk-muluk. Kita membeli properti tetap harus masuk akal. Kalau dirasa nggak masuk akal, berhati-hatilah. Karena banyak kasus developer menawarkan produk properti yang harganya lebih murah dengan fasilitasnya yang fantastis. Tetapi ujung-ujungnya ternyata bodong,” pesan Lia./ JOURNEY OF INDONESIA