JAKARTA – Suasana Galeri Indonesia Kaya sepanjang Juli ini tak melulu diisi penonton yang duduk diam menyaksikan panggung. Di sela pertunjukan akhir pekan, anak-anak justru sibuk memahat boneka kayu burung cendrawasih, menganyam rumput menjadi wayang suket, atau berlatih dialog untuk pentas mereka sendiri.
Rangkaian ini digelar Galeri Indonesia Kaya menyambut Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli, menggabungkan pertunjukan seni dengan program Ruang Kreatif Liburan Anak yang bisa diikuti gratis.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian menyebut inisiatif ini lahir dari keyakinan bahwa kecintaan pada budaya tumbuh paling baik lewat pengalaman langsung, bukan sekadar tontonan. Dirinya meyakini setiap anak berhak mendapatkan ruang untuk belajar, berekspresi, dan mengenal jati dirinya, termasuk melalui seni dan budaya.
“Menyambut Hari Anak Nasional, kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya wawasan anak-anak tentang kekayaan budaya Indonesia. Kami percaya, ketika anak diberikan kesempatan untuk menikmati sekaligus terlibat langsung dalam proses berkesenian, kecintaan terhadap budaya akan tumbuh secara alami dan menjadi bekal berharga bagi mereka di masa depan,” ujarnya.

Rangkaian pertunjukan akhir pekan dibuka pada 4 Juli lewat Makemory #SaveLaguAnak, yang menghadirkan Natasha, Ria Enes & Suzan, Tasya Kamila, dan Geofanny dalam nostalgia lagu-lagu anak sekaligus upaya memperkenalkannya kepada generasi masa kini. Sepekan berselang, giliran Musikal Nara si Putri Angsa oleh Swargaloka naik panggung pada 11 Juli, mengangkat kisah seorang putri yang berubah menjadi angsa untuk menyampaikan pesan tentang empati dan bahaya perundungan.
Bagi Tasya Kamila, momen tampil di hadapan anak-anak sekaligus membawanya kembali ke masa kecil sebagai penyanyi cilik. Dirinya mengungkapkan sebagai seseorang yang tumbuh bersama lagu-lagu anak dan pernah merasakan indahnya masa menjadi penyanyi cilik, Tasya percaya lagu anak memiliki peran penting dalam membentuk kenangan sekaligus nilai-nilai positif sejak dini.
“Senang sekali melihat antusiasme anak-anak yang hadir di Galeri Indonesia Kaya, bahkan putra saya, Arrasya, ikut bernyanyi dan maju ke depan secara spontan ketika lagu-lagu anak dibawakan. Momen sederhana seperti itu menunjukkan bahwa lagu anak tetap bisa dinikmati lintas generasi ketika terus diperkenalkan melalui pengalaman yang menyenangkan bersama keluarga. Semoga semakin banyak anak Indonesia yang dapat tumbuh bersama lagu-lagu yang memang diciptakan untuk dunia mereka,” tuturnya.
Panggung berlanjut ke ranah fantasi pada 18 Juli lewat Fantasy Land dari Regina Art, yang mengajak penonton mengikuti petualangan Luna dan sahabat-sahabatnya di dunia imajinatif sarat pesan keberanian, persahabatan, dan kerja sama.
Rangkaian pertunjukan lalu ditutup pada 25 Juli melalui Musikal Ibu Sud: Nada Anak Nusantara persembahan Ngajagi Kreasi Nusantara, dengan Sita Nursanti memerankan sosok Ibu Sud didampingi Ria Enes dan Suzan sebagai narator. Dalam durasi sekitar 60 menit, pertunjukan ini menghidupkan kembali karya-karya legendaris Ibu Sud seperti Pergi Belajar, Naik Delman, Naik Becak, Burung Kutilang, Kupu-Kupu yang Lucu, hingga Tik-Tik Bunyi Hujan melalui aransemen baru.

Di luar panggung, program Ruang Kreatif Liburan Anak yang telah berjalan sejak awal Juli membuka ruang bagi anak-anak untuk langsung terjun berkarya. Kelas Akting Anak “Si Kendhil” bersama Peqho Kids, yang berlangsung 6–9 Juli dan ditutup uji pentas pada 12 Juli, mengajak peserta belajar akting, tari, dan menyanyi lewat cerita rakyat Jawa Tengah bertema penerimaan perbedaan dan pencegahan perundungan.
Pada rentang tanggal yang sama, peserta lain mengenal budaya Nusantara lewat jalur berbeda dengan membuat dekorasi boneka kayu burung cendrawasih bersama Bartega Studio dan berlatih angklung bersama Angklung Galung Nusantara pada 6–7 Juli, lalu menyusun diorama papercraft kesenian Nusantara bersama Ichinogami serta mempelajari sejarah dan filosofi Wayang Suket bersama Wayang Suket Indonesia pada 8–9 Juli.
Rangkaian Ruang Kreatif akan berlanjut pada 26–30 Juli lewat Kelas Singkat Pemula: Musikal Payung Fantasi bersama Pasha Prakasa dan Andrea Miranda. Terbuka untuk peserta berusia 15 hingga 40 tahun tanpa pengalaman panggung sebelumnya, kelas ini mengajak peserta merasakan langsung proses produksi musikal yang terinspirasi perjalanan hidup Ismail Marzuki, lengkap dengan latihan dialog, akting, koreografi, dan lagu-lagu legendaris seperti Payung Fantasi, Pasar Gambir, Halo-Halo Bandung, dan Indonesia Pusaka, sebelum tampil dalam uji pentas pada 2 Agustus 2026.
Seluruh pertunjukan akhir pekan maupun kelas Ruang Kreatif yang masih berjalan dapat diikuti secara gratis, dengan reservasi dan jadwal lengkap tersedia melalui IndonesiaKaya.com. Lewat rangkaian ini, Galeri Indonesia Kaya berupaya menempatkan anak bukan sekadar penonton, melainkan pelaku yang ikut merasakan, mempelajari, dan menciptakan kekayaan budaya Indonesia sejak dini./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa

















