JAKARTA – Sepuluh hari ke depan, lantai 8 Gedung Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki (TIM) berubah jadi ruang kilas balik. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk membongkar ulang makna kata yang selama ini lekat dengan konotasi negatif: kepo. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menghadirkannya lewat Pameran Arsip dan Koleksi bertajuk “Kepo Kosmopo: Melampaui ‘Gincu Dunia Ketiga'”, yang resmi dibuka untuk umum sejak Selasa, 4 Agustus 2026, di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated.
Selama ini, kepo kerap dianggap sebagai rasa ingin tahu yang berlebihan, bahkan cenderung dipandang mengganggu. Riset yang dilakukan Dian Selira untuk pameran ini justru membalik cara pandang tersebut. Kepo, dalam bingkai kuratorial “Kepo Kosmopo”, dimaknai ulang sebagai keberanian: keberanian untuk terus bertanya, belajar, dan membuka percakapan dengan dunia luar.
Pemaknaan itu dituangkan lewat ratusan arsip, dokumentasi, dan koleksi yang merekam jejak perjumpaan gagasan, praktik artistik, serta dinamika kebudayaan yang tumbuh di lingkungan TIM selama puluhan tahun.

Yang membedakan pameran ini dari sekadar pajangan dokumen lawas adalah caranya mengajak pengunjung berpikir, bukan sekadar mengenang. Alih-alih meromantisasi masa lalu, materi yang dipamerkan justru memperlihatkan sisi lain dari sejarah infrastruktur seni dan budaya Indonesia, yakni bagaimana ia dibangun di tengah keterbatasan ekonomi, minimnya sumber daya, hingga ketidakpastian sosial-politik yang berkali-kali mengguncang negeri ini.
Dari situ, “Kepo Kosmopo” melempar pertanyaan yang terasa sangat relevan untuk hari ini, di tengah arus informasi yang serba instan: bagaimana caranya mewarisi keberanian untuk terus penasaran terhadap dunia, tanpa kehilangan pijakan pada pengalaman dan konteks lokal.
Kata “Kosmopo” pada judul pameran bukan tempelan tanpa makna. Ia merujuk pada semangat kosmopolitanisme yang sudah menjadi napas TIM sejak kawasan ini berdiri. Semangat itu, menurut kurasi pameran, bukan soal meniru budaya asing, melainkan buah dari sejarah panjang pertemuan berbagai bahasa, pemikiran, dan praktik seni yang menjadikan Jakarta kota yang terbuka terhadap pertukaran gagasan. Lewat pameran yang digelar di Selasar Nashar ini, publik diajak membaca ulang TIM bukan sebagai monumen yang statis, melainkan ruang budaya yang terus bergerak lewat dialog, pertukaran ide, dan keterbukaan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Kolaborasi antara DKJ dan Paviliun Raden Saleh dalam menghadirkan pameran ini pun bukan kebetulan. Sebagai hotel yang tumbuh berdampingan dengan kawasan TIM, Paviliun Raden Saleh menyebut dirinya punya kedekatan emosional dengan denyut kesenian di sekitarnya. General Manager Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, Asco Hamdani, mengungkapkan alasan pihaknya turut ambil bagian dalam penyelenggaraan acara ini.
“Kami merasa terhormat dapat menjadi bagian dari penyelenggaraan pameran ini. Sebagai sebuah Hotel yang tumbuh di lingkungan Taman Ismail Marzuki, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated memiliki kedekatan yang kuat dengan semangat seni dan budaya yang hidup di kawasan ini. Melalui pameran ‘Kepo Kosmopo’, kami berharap semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses, memahami, dan terlibat dalam percakapan mengenai sejarah serta masa depan kebudayaan Indonesia,” ujar Asco Hamdani.
Harapan itu bukan basa-basi seremonial belaka. Sebab, di balik rak-rak arsip dan koleksi yang dipamerkan, ada ajakan yang lebih besar: menempatkan rasa ingin tahu bukan sebagai sikap yang perlu direm, melainkan modal untuk terus belajar dari dunia sekaligus memperkenalkan Indonesia kepadanya, sebuah pola yang sebenarnya sudah lama hidup di kawasan TIM jauh sebelum istilah kepo populer di jagat maya.
Bagi warga Jakarta yang penasaran, pameran ini terbuka untuk umum dan gratis, berlangsung mulai 4 hingga 14 Agustus 2026 di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, ARTOTEL Curated, lantai 8 Gedung Ali Sadikin, kawasan Taman Ismail Marzuki.
Informasi lebih lengkap seputar jadwal kunjungan dan rangkaian acara bisa diperoleh melalui nomor (+62) 811-9697-2025 atau akun Instagram @paviliunradensaleh./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















