JAKARTA – Bicara tentang Raden Ajeng Kartini sering kali membuat kita terjebak pada romantisme kebaya dan seremoni tahunan. Padahal, jika kita menyelami lebih dalam surat-suratnya, ada kegelisahan yang jauh lebih besar dari sekadar urusan emansipasi. Kartini adalah seorang visioner yang menyadari bahwa fondasi sebuah negara tidak dibangun di atas aspal atau gedung pencakar langit, melainkan di atas kualitas pemikiran manusianya. Ia melihat pendidikan bukan hanya sebagai tiket untuk bekerja, melainkan sebagai jalan memuliakan akhlak dan memperkuat karakter bangsa.
Lahir di tengah kungkungan adat yang kaku, Kartini tidak membalas keterbatasan itu dengan kemarahan, melainkan dengan gagasan. Lewat literatur klasik Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menitipkan pesan kuat bahwa pendidikan adalah hak asasi yang akan membawa peradaban keluar dari kegelapan. Spirit ini sebenarnya selaras dengan pesan langit dalam QS. Al-Mujadilah: 11, yang menjanjikan derajat lebih tinggi bagi mereka yang beriman dan berilmu. Bagi Kartini dan juga dalam konteks spiritual, ilmu adalah kompas yang menuntun manusia menuju kemuliaan yang hakiki.
Jika kita menengok data terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, angka-angka yang muncul sebenarnya cukup menyejukkan hati. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk anak usia 7 hingga 12 tahun sudah menembus angka di atas 99 persen. Artinya, hampir seluruh anak Indonesia di jenjang sekolah dasar sudah mendapatkan haknya. Di level pendidikan tinggi, World Bank dalam Indonesia Country Gender Assessment bahkan mencatat tren partisipasi perempuan yang terus menanjak, di mana dalam beberapa titik tertentu, jumlahnya mulai melampaui laki-laki.
Namun, di balik gemilangnya statistik tersebut, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah kuantitas ini sudah berbanding lurus dengan kualitas? Data BPS juga memberikan “catatan kaki” bahwa rata-rata lama sekolah perempuan di Indonesia masih berkisar di angka 8 hingga 9 tahun. Ini menjadi alarm bahwa banyak anak perempuan kita yang belum tuntas mengenyam pendidikan menengah. Belum lagi urusan kesenjangan antara fasilitas pendidikan di kota besar dengan pelosok desa yang masih timpang. Angka memang penting, tapi kebermanfaatan nyata jauh lebih krusial.
Kemajuan perempuan di masa kini seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gelar akademik yang diraih, tapi dari seberapa besar dampaknya bagi kehidupan. Ada empat pilar utama yang tetap relevan untuk diperjuangkan: kualitas ilmu yang berbalut akhlak, ketahanan keluarga sebagai benteng pertama masyarakat, kesehatan ibu dan anak, serta kontribusi sosial yang nyata. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Di sinilah letak peran strategis perempuan sebagai pendidik pertama dalam keluarga sekaligus penggerak sosial.
Realitas yang kita hadapi hari ini adalah arus modernitas yang begitu deras. Tanpa pegangan nilai yang kuat, pendidikan hanya akan melahirkan robot-robot pintar yang hampa empati. Kartini hadir bukan hanya untuk membuka pintu akses, tapi juga untuk memastikan kita tidak kehilangan arah. Ia mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari cara kita berpikir dan kesadaran akan tanggung jawab. Hal ini senada dengan prinsip keseimbangan yang tertuang dalam QS. Al-Baqarah: 228, bahwa perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya secara patut.
Meneladani Kartini berarti melanjutkan amanah peradaban yang belum selesai. Semangatnya harus tetap hidup bukan sebagai artefak sejarah, melainkan sebagai energi yang menguatkan keluarga dan menjaga kualitas manusia Indonesia. Selama kita masih memuliakan ilmu dan menjaga nilai-nilai luhur, maka cahaya yang dulu diperjuangkan Kartini akan terus benderang, menerangi setiap langkah bangsa ini menuju masa depan yang lebih bermartabat./ JOURNEY OF INDONESIA | Nuhaa


















