JAKARTA – Dinamika musik di ibu kota kerap didominasi oleh gelombang konser pop lokal dan penetrasi masif promotor internasional. Namun, pertengahan Juni ini akan menjadi momentum pembuktian bahwa cetak biru musik modern Indonesia tidak pernah melupakan akar sejarahnya. Sebuah panggung yang didedikasikan khusus untuk pergerakan instrumental dan eksplorasi genre siap menyapa publik.
Jakarta Fusion Jazz Festival ( JFJF) 2026 dipastikan bakal menjadi episentrum bertemunya para maestro. Dijadwalkan berlangsung pada 19-20 Juni 2026 di DeHeng House, Kemang, Jakarta Selatan, helatan ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang nostalgia semata. Lebih dari itu, festival ini mengemban misi menghidupkan kembali denyut nadi genre fusion jazz yang sempat merajai industri musik tanah air pada dekade 1980-an hingga 1990-an.
Sinergi apik antara Dehills Production, DSS, dan PAPPRI Live ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan menyambut HUT ke-499 Kota Jakarta serta World Music Day yang jatuh setiap tanggal 21 Juni. Perhelatan volume pertama ini juga diposisikan sebagai langkah awal dari rangkaian JAKFUSE (Jakarta Annual Fusion Festival) menuju seabad paruh kedua atau perayaan 500 tahun Jakarta pada 2027 mendatang.
Penggagas acara sekaligus perwakilan DSS, Donny Hardono, menegaskan bahwa inisiatif ini berakar dari sebuah keresahan dan harapan besar terhadap ekosistem musik tanah air. “Musik fusion sebenarnya memiliki penggemar yang sangat loyal. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan kembali musisi, komunitas, dan generasi baru agar bisa mengenal kekayaan musik fusion Indonesia,” ujarnya.

Atmosfer DeConcert Room di DeHeng House dipastikan langsung memanas sejak hari pertama, Jumat, 19 Juni 2026. Panggung utama akan dibuka oleh Emerald BEX. Grup ini merupakan peleburan magis dari dua kekuatan besar era 80-an, yaitu Emerald yang menjuarai Light Music Contest (LMC) 1986, dan Band Explosion (BEX) yang berjaya pada tahun 1988. Kembali dengan formasi solid yang diperkuat Iwang Noorsaid (keyboard), Morgan Sigarlaki (gitar), Roedyanto Wasito (bass), dan Yandi Andaputra (drum), grup yang dahulu melambungkan nama mendiang Ricky Johanes ini kini menggandeng Dudy Oris pada lini vokal.
Mewakili Emerald BEX, Yandi Andaputra menyampaikan bahwa ruang apresiasi seperti ini sudah terlalu lama absen dari kalender pertunjukan musik nasional. “Acara seperti ini sudah lama dirindukan. Bukan hanya oleh penonton, tapi juga oleh para musisi. Ini menjadi momentum penting untuk kembali mempertemukan para pelaku dan pencinta musik fusion dalam satu panggung,” kata Yandi.
Senada dengan rekannya, Edwin Saladin membocorkan bahwa mereka tidak ingin tampil biasa saja demi memuaskan dahaga para penikmat musik kompleks ini. “Kami akan membawakan beberapa lagu yang mungkin sudah sangat lama tidak kami mainkan. Ada juga beberapa kejutan yang sedang kami persiapkan agar penonton mendapatkan pengalaman yang berbeda,” ujarnya.
Malam pertama juga akan diperkaya oleh sesi emosional bertajuk “Tribute to Indonesian Fusion Bands” oleh Audiensi Band. Mereka akan menghidupkan kembali katalog lagu legendaris dari Bhaskara, Spirit Band, hingga Funk Section. Menariknya, deretan personel asli grup-grup tersebut dikonfirmasi akan ikut turun gunung. Mulai dari Vonny Sumlang dan AS Mates (Bhaskara), Eramono, Ilyas Muhadji, dan Kemala Ayu (Spirit Band), hingga Mus Mujiono, Yance Manusama, dan Eka Bhakti yang pernah memperkuat Funk Section semasa mendiang Glenn Fredly bertindak sebagai vokalis.
Sebagai hidangan penutup hari pertama, Krakatau akan naik pentas dengan formasi yang sangat dinantikan yakni, Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Trie Utami, serta disokong oleh musisi generasi berikutnya, Barry Likumahuwa dan Andre Dinuth.
Dalam sesi konferensi pers yang digelar di Ko Fi n Tie DeHeng House pada 4 Juni 2026, Dwiki Dharmawan memberikan garansi bahwa penampilan mereka kali ini akan sangat autentik. “Kami akan memainkan sekitar 95 persen aransemen yang mendekati versi aslinya. Ini bentuk penghormatan kepada para penikmat musik yang selama ini mengikuti perjalanan Krakatau,” ungkap Dwiki.
Ia juga menekankan bahwa penonton akan disajikan esensi murni dari identitas awal Krakatau melalui eksplorasi karya instrumental mereka yang kaya.“Fusion itu bukan sekadar jazz. Di dalamnya ada soul, funk, blues, rock, bahkan unsur tradisi yang dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Itu yang membuat genre ini sangat menarik,” tambahnya.

Memasuki hari kedua, Sabtu, 20 Juni 2026, giliran kiblat fusion internasional yang mendapat sorotan. Audiensi Band kembali naik panggung untuk membawakan nomor-nomor instrumental milik Casiopea, raksasa jazz fusion asal Jepang yang menjadi salah satu anutan terbesar musisi Indonesia di era 80-an. Tak ketinggalan, grup T-42 juga bersiap menghentak lewat lagu-lagu milik Level 42, band jazz-funk legendaris asal Inggris.
Puncak dari seluruh rangkaian festival ini akan dikunci oleh penampilan Karimata. Band ikonik ini digawangi oleh deretan maestro: Candra Darusman, Aminoto Kosin, Budhy Haryono, Donny Suhendra Koeswinarno, Indro Hardjodikoro, dan Kharis.
Mewakili Karimata, Budhy Haryono memastikan bahwa karakter kuat grup yang bertumpu pada komposisi instrumental sarat teknik tinggi tetap menjadi menu utama, namun tetap dengan sentuhan modern. “Kami menyiapkan sekitar 13 hingga 14 lagu untuk dimainkan selama kurang lebih satu jam. Ada juga kolaborasi spesial bersama Mima, penyanyi jebolan Indonesian Idol yang akan memberikan warna baru dalam penampilan kami,” ujar Budhy.
Selain panggung utama di DeConcert Room, denyut festival ini sebenarnya sudah dimulai sejak sore hari pukul 16.00 WIB di area Ko Fi n Tie yang terletak di lantai dua. Dengan kapasitas intim sekitar 150 orang, ruang ini difungsikan sebagai wadah edukasi dan regenerasi melalui rangkaian talkshow, jam session, serta penampilan dari para musisi muda bertalenta. Menjelang malam, suasana santai di kafe resto ini akan dihidupkan oleh penampilan Ricky Poetiray & Friends serta Cendy Luntungan & Friends hingga tengah malam.
Pihak penyelenggara menargetkan total sekitar 1.000 penonton dapat memadati area DeHeng House selama dua hari penyelenggaraan. Melalui perhelatan ini, promotor berharap tempat ini tidak sekadar menjadi lokasi konser sesaat, melainkan tumbuh menjadi destinasi baru, sebuah “rumah” yang representatif dengan fasilitas lengkap bagi para musisi tanah air untuk memamerkan karya terbaik mereka.
Bagi para penikmat musik yang ingin menyaksikan langsung lembaran sejarah ini ditulis kembali, seluruh informasi mengenai jadwal detail pertunjukan serta akses pergantian tiket dapat dipantau melalui kanal digital resmi milik penyelenggara./ JOURNEY OF INDONESIA | iBonk

















