JAKARTA – Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit resmi dibuka pada Selasa (28/04) lewat atmosfer yang tidak terasa seperti seminar akademik yang kaku. Ada percakapan hangat yang mengalir di antara sekitar 300 peserta yang hadir. Mereka bukan hanya peneliti, melainkan gabungan dari birokrat, pelaku industri, hingga aktivis masyarakat sipil.
Event yang membawa pesan penting yakni riset yang menjawab tantangan hidup manusia sehari-hari. Acara yang berlangsung selama dua hari hingga 29 April 2026 ini merupakan puncak dari perjalanan panjang. Setelah sebelumnya menyapa Makassar dan Yogyakarta, Jakarta menjadi saksi bagaimana 12 hasil riset terpilih dipresentasikan.
Riset-riset ini mencakup enam sektor vital yang menjadi napas pembangunan kita saat ini: pangan, energi, air, kesehatan, pendidikan, dan teknologi. Melalui program KONEKSI, inisiatif kolaborasi Australia dan Indonesia ini ingin memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir benar-benar inklusif dan berkelanjutan.

Wakil Duta Besar Australia, Gita Kamath, yang hadir dalam pembukaan tersebut, menyiratkan bahwa hubungan kedua negara tetangga ini sudah melampaui urusan diplomatik formal. Baginya, pendidikan dan riset adalah jembatan paling kokoh yang mempertemukan dua bangsa. “Pendidikan dan riset merupakan investasi strategis. Kemitraan ini memperkuat institusi yang berkelanjutan dan, yang terpenting, memperdalam hubungan antar manusia, menjadi inti dari hubungan Australia–Indonesia,” ungkap Gita dengan nada optimis.
Pernyataan itu seolah diamini oleh Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan dari Kemdiktisaintek. Ia menggambarkan kedekatan kedua negara ini dengan istilah yang menyentuh persaudaraan. Australia, bagi banyak akademisi dan mahasiswa Indonesia, bukan lagi negeri asing yang jauh di selatan, melainkan tempat menimba ilmu yang terasa dekat di hati.

“Indonesia dan Australia selayaknya sudah seperti saudara dalam konteks hubungan bilateral yang telah terjadi dengan sebegitu baiknya di berbagai tingkat. Mulai dari peran pemerintah hingga dalam konteks people-to-people-contact. Australia sudah bagaikan rumah kedua terutama bagi para mahasiswa Indonesia yang menaruh minat sebegitu besarnya terhadap sektor pendidikan tinggi, sains, dan teknologi Australia,” tutur Fauzan.
Namun, KIE Jakarta Summit tidak hanya berhenti pada romantisme hubungan bilateral. Ada target yang lebih besar, yakni bagaimana hasil penelitian ini tidak berakhir di rak perpustakaan, melainkan masuk ke dalam ruang-ruang kebijakan pemerintah dan diadopsi oleh industri. Sinergi ini disebut sebagai pembangunan ekosistem oleh Wakil Menteri PPN, Febrian Alphyanto Ruddyard.
Febrian memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi para mitra di bawah bendera KONEKSI. Ia melihat ada semangat kolaboratif yang terus bertumbuh dan semakin solid. “Saya ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh mitra program kolaborasi pengetahuan dan inovasi Australia-Indonesia (KONEKSI). Apa yang dibangun melalui KONEKSI, menurut saya bukan sekadar kerja sama, tetapi ini adalah pembentukan sebuah ekosistem. Ekosistem yang mempertemukan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan media,” jelas Febrian.

Langkah ini selaras dengan cita-cita besar pembangunan nasional dan Asta Cita, yang bertujuan meningkatkan daya saing bangsa. Di forum ini, proyek-proyek riset dari ujung barat hingga timur Indonesia dipamerkan bukan sekadar untuk diperlihatkan, melainkan untuk dirumuskan menjadi rekomendasi solusi nyata. Melibatkan pejabat senior dari berbagai kementerian, pertemuan ini berupaya memastikan bahwa suara-suara dari penelitian di tingkat tapak dapat terdengar hingga ke pusat kebijakan nasional.
Melalui KIE Jakarta Summit, riset kini memiliki wajah yang lebih membumi. Ia adalah alat untuk memastikan air bersih tetap mengalir, energi tetap tersedia, dan teknologi mampu merangkul semua kalangan. Sebuah langkah nyata untuk masa depan Indonesia dan Australia yang lebih cerah, melalui tangan-tangan inovator yang tak lelah berkolaborasi.
Tag: KONEKSI,KIE Jakarta Summit 2026,Riset Australia Indonesia,Inovasi Berkelanjutan,Bilateral,Teknologi Inklusif,

















